Donderdag 09 Mei 2013

Drop out (DO) dan Mutasi


Drop out ( DO ) DAN Mutasi
BAB I
A.PENDAHULUAN
    Di dalam pembelajaran manajemen pendidikan tidak pernah terlepas dari peliputan sekolah yang meliputi berbagai rancangan siswa dan semua aktifitas siswa di sekolah dari penerimaan siswa hingga aturan –aturan perencanaan sekolah yang sudah di sekepakati oleh Diknas. Salah satu peliputan sekolah yang meliputi siswa  adalah pengaturan untuk siswa yang mutasi dan Drop out (DO) . dimana menurut pendapat banyak orang bahwa cara ini merupakan pemborosan biaya sekolah yang sudah di bayarkan ,malah siswanya tidak dapat belajar karena di drop out .

B . RUMUSAN MASALAH   
1.     Apa yang di maksud oleh Drop out dan mutasi ?
2.     Faktor –faktor apa saja yang terjadinya Drop out ?
3.     Apa – apa saja jenis mutasi ?


BAB II
C. PEMBAHASAN
A.Pengertian Drop Out
    Drop Out adalah keluar dari sekolah sebelum waktunya, atau sebelum lulus. Drop out demikian ini perlu dicegah, oleh karena hal demikian dipandang sebagai pemborosan bagi biaya yang sudah terlanjur dikeluarkan untuknya. Banyaknya peserta didik yang drop out adalah indikasi rendahnya produktivitas pendidikan. Tinginya angka drop out juga bisa mengganggu angka partisipasi pendidikan atau sekolah.


2.Faktor-faktor Terjadinya Drop Out
   Pada umumnya di sekolah-sekolah sekarang ini dibedakan 3 hal sehubung dengan masalah ketidak hadiran. Penyebab ketidak hadiran tersebut diantaranya adalah adanya ijin, sakit dan alpa. Tetapi ketiga hal tersebut akan menyebabkan sebuah masalah jika dalam jumlah yang sering dilakukan oleh peserta didik. Salah satu akibat yang akan diterima oleh peserta didik adalah sebuah pilihan yang harus diterima yaitu sebuah pernyatan drop out dari sekolah.
   Secara umum sebab-sebab terjadinya drop out yaitu peserta didik tidak mampu menyelesaikan pendidikan, tidak mempunyai biaya sekolah, peserta didik dalam keadaan sakit dan tidak kunjung sembuh. Jika dibedakan melalui beberapa sumber ketidak hadiran yang juga akan menyebabkan terjadinya sebuah drop out dapat dilihat dari berbagai sumber, yaitu sebagai berikut:
a. Dilihat dari peserta didik itu sendiri
b.Dilihat dari segi orang tua
c. Dilihat dari segi sekolah
1.     Dilihat dari segi masyarakat
a)      Dilihat dari segi tanggung jawab murid itu sendiri
  • Murid yang sering sakit
  • Membolos karena pengaruh teman-teman sekelompok
  • Karena malas
  • Tidak mengerjakan pekerjaan rumah
  • Melanggar peraturan lalu dihukum
  • Berkelahi lalu tidak berani masuk sekolah
  • Lupa atau tidak mau minta ijin dari sekolah
  • Kebiasaan-kebiasaan buru yang telah dibawa sejak lama
b)      Dilihat dari segi rumah tangga
  • Orang tua yang selalu sibuk karena ayah dan ibu bekerja dan kurang memperhatikan anak
  • Latar belakang ekonomi orang tua yang terlalu buruk
  • Terlalu memanjakan anak
  • Keluarga yang berpindah-pindah tempat kerja
  • Tempat tinggal yang jauh
  • Karena tidak mempunyai pakaian yang layak untuk ke sekolah
  • Tuntutan orang tua yang harus bekerja
  • Orang tua mengajak anak untuk bepergian
c)      Dilihat dari segi sekolah
  • Suasana belajar yang kurang menyenangkan
  • Guru yang terlalu keras dan menyakitkan
  • Kurangnya pembinan dan bimbingan dari guru
  • Kebijaksanaan pimpinan sekolah yang kurang menguntungkan
  • Bangunan sekolah yang agak jauh
  • Biaya dan pungutan uang sekolah yang terlalu tinggi
  • Tuntutn peraturan yang menekan para siswa
  • Keadaan gedung yang tidak memenuhi syarat
  • Program sekolah yang kurang menarik
  • Sukarnya pengangkutan untuk datang ke sekolah
d)     Dilihat dari segi masyarakat
  • Musim panaen yang memaksa anak harus ikut kerja musiman
  • Bencana alam menimpa sehingga masyarakat kacau
  • Jalan yang terhalang
Dari uraian di atas dapat dirangkum hal-hal sebagai berikut:
1.     Bahwa ada hubungan yang berarti antara ketidak hadiran seseorang siswa dari kemajuan belajar dan pembentukan pribadi.
2.     Bahwa ketidak hadiran ada yang disebut tardiness atau terlambat daang dan ada yag disebut truency (terlambat datang).
3.     Umumnya ketidak hadiran itu disebabkan dari faktor kesehatan atau faktor diluar kesehatan.
4.     Untuk mengatasi masalah ketidak hadiran itu diperlukan perhitungan yang lebh akurat dan lebih teliti.
5.     Mengatasi sumber sebab ketidak hadiran harus dilihat dari setiap segi, yaitu segi dari murid sendiri, orang tua, sekolah, dan masyarakat.
Kerjasama dan pendekatan yang manusiawi akan dapat mengurangi ketidak hadiran di sekolah. Seorang administrator dpat menciptakan sebuah suasana sekolah yang dapat membuat seseorang siswa merasa nyaman. Sehingga seorang siswa dapat mengambil ilmu atau manfaat dengan adnya sekolah tersebut. Olek karena itu Dr. P. Ely dalam Sahertian mengatakan para guru dan administrator sebaiknya memilki tender, love and care. Berlakuah supel tetapi tegas dan berwibawa. Jadi seorang murid tiadak akan merasa takut atau ketidaknyaman dalam belajar. Itulah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi sebab yang berasal dari segi lingkugan sekolah yaitu melalui seorang guru ataupun administrator.
B.     Mutasi Peserta Didik
1. Pengertian Mutasi Peserta Didik
    Mutasi yaitu perpindahan peserta didik dari kelas yang satu ke kelas yang lain yang sejajar atau perpindahan peserta didik dari sekolah satu ke sekolah yang lain yang sejenis. Perpindahan siswa bisa juga disebut istilah mutasi siswa. Perpindahan siswa mempunyai dua pengertian yaitu:
a). Perpindahan siswa dari suatu sekolah kesekolah lain yang sejenis.
b). Perpindahan siswa dari suatu jenis program ke jenis program yang lain.
   Perpindahan siswa dari suatu sekolah kesekolah lain yang sejenis telah dibicarakan pada waktu pembahasan siswa baru. Perpindahan ini ialah perpindahan wilayah atau suatu tempat. Jenis sekolah, tingkat/kelas dan jurusan atau program studi disekolah baru sama dengan jenis sekolah, kelas, dan jurusan pada sekolah asalnya. Perpindahan siswa yang ke dua adalah perpindahan jenis program.
2. Macam-macam Mutasi
Mutasi atau perpindahan peserta didik dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a. Mutasi Intern
   Mutasi intern adalah mutasi yang dilakukan oleh peserta didik di dalam sekolahan itu sendiri. Umumnya, peserta didik demikian hanyalah pindah kelas saja, dalam suatu kelas yang tingkatannya sejajar. Mutasi intern ini, dilakukan oleh peserta didik yang sama jurusannya, atau yang berbeda jurusannya.
b.Mutasi Ekstern
   Mutasi ekstern adalah perpindahan peserta didik dari satu sekolah ke sekolah lain dalam satu jenis, dan dalam satu tingkatan. Meskipun ada juga peserta didik yang pindah ke sekolah lain dengan jenis sekolah yang berlainan. Pada sekolah-sekolah negeri hal demikian menjadi persoalan, meskipun pada sekolah swasta, terutama yang kekurangan peserta didik, tidak pernah menjadi persoalan.
  Mengenai perpindahan siswa (mutasi siswa) dari seolah kesekolah lain ini biasanya ada pedoman-pedomanperaturan yang harus diikuti pedoman-pedoman tersebut antara lain menyangkut:
(1). Pembatasan wilayah
      Murid tidak diperkenankan pindah dari sekolah kesekolah lain dalam satu wilayah. Perpindahan antar wilayah bisa dibenarkan apabila didasarkan pada alasan yang cukup mendasar misalnya orang tua pindah tempat kerja dan anak ikut saudaranya dikota lain.
(2). Status sekolah
      Murid dari sekolah swasta walaupun memiliki mutu yang lebih baik dari pada sekolah negeri, tidak diperkenankan untuk pindah kesekolah negeri. Sekolah-sekolah negeri hanya diperkenankan siswa pindahan dari sekolah negeri saja.
(3). Jenis sekolah
     Sekolah negeri atau sekolah menengah dapat dibedakan dalam dua jenis sekolah, yaitu sekolah-sekolah umum dan sekolah-sekolah kejuruan. Sekolah kejuruan ada beberapa jenis pula, misalnya Sekolah Teknologi Menengah (STM), Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA), Sekolah Kesejahteraan Keluarga Atas (SKKA), dll. Perpindahan siswa dari lain jenis sekolah tidak diperbolehkan.


(4). Pindah sekolah tidak naik kelas
      Suatu sekolah tidak boleh menaikkan kelas seorang siswa yang telah dinyatakan tidak naik kelas oleh sekolah lain, walaupun sama-sama sebagai sekolah negeri. Menaikan kelas seorang murid yang telah dinyatakan tidak naik kelas oleh suatu sekolah mungkin saja terjadi di sekolah-sekolah swasta. Misalnya tidak naik kelas disekolah negeri kemudian pindah di sekolah swasta sejenis dengan dinaikan kelasnya.
3. Sebab-sebab Mutasi
    Ada banyak penyebab peserta didik mutasi. Adapun faktor penyebab tersebut, dapat bersumber dari peserta didik sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan teman sebaya.
a. Yang bersumber dari peserta didik sendiri adalah:
  1)  Yang bersangkutan tidak kuat mengikuti pelajaran di sekolah tersebut.
  2)   Tidak suka dengan sekolah tersebut, atau merasa tidak cocok.
  3)   Malas.
  4)   Ketinggalan dalam pelajaran.
  5)   Bosan dengan sekolahnya.
b.Yang bersumber dari lingkungan keluarga adalah:
  1)   Mengikuti orang tua pindah kerja.
  2)   Dititipkan oleh orang tuanya di tempat nenek atau kakeknya, karena ditinggal tugas belajar ke luar negeri.
 3)    Mengikuti orang tua yang sedang tugas belajar.
 4)    Disuruh oleh orang tuanya pindah.
5)   Orang tua merasa keberatan dengan biaya yang harus dikeluarkan di sekolah tersebut.
6)   Mengikuti orang tua pindah rumah.
7)   Mengikuti orang tua transmigrasi.

c. Yang bersumber dari lingkungan sekolah adalah:
  1)  Lingkungan sekolah yang tidak menarik.
  2)  Fasilitas sekolah yang tidak lengkap.
  3)   Guru di sekolah tersebut sering kosong.
  4)   Adanya kebijakan-kebijakan sekolah yang dirasakan berat oleh peserta didik.
  5)   Sulitnya sekolah tersebut dijangkau, termasuk oleh transportasi yang ada.
  6)   Sekolah tersebut dibubarkan, karena alasan-alasan, seperti kekurangan murid.
  7)    Sekolah tersebut dirasakan peserta didik tidak bonafid, seperti rendahnya angka kelulusan setiap tahun.

d. Yang bersumber dari lingkungan teman sebaya, yaitu:
   1)  Bertengkar dengan teman.
   2)  Merasa diancam oleh teman.
   3)  Tidak cocok dengan teman.
   4)   Merasa terlalu tua sendiri dibandingkan dengan teman-teman sebayanya.
   5)   Semua teman yang ada di sekolah tersebut, berlainan jenis dengan dirinya, sehingga merasa sendirian
   6) Semua teman yang ada di sekolah tersebut berlainan strata dengan dirinya.
  
    Mutasi sangat perlu dicegah, agar terdapat kesinambungan pengetahuan peserta didik yang diterima sebelumnya dengan kelanjutannya. Oleh karena itu, ijin mutasi hendaknya diberikan jika disertai dengan alasan yang dapat diterima dan sangat baik bagi perkembangan peserta didik itu sendiri. Seminimal mungkin, mutasi peserta didik yang bersifat ekstern haruslah dikurangi. Pencegahan dan pengurangan tersebut, tentu bergantung kepada macam sumber faktor penyebabnya
4.Teknik Pencegahan Mutasi
   Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya mutasi, jika seseorang mau melakukannya khususnya seorang guru dalam pengaturan peserta didik.
   Jika sumber penyebab mutasi berasal dari diri peserta didik sendiri, maka langkah preventif yang harus dilakukan adalah memberikan semacam jaminan kepada peserta didik, bahwa kalau dapat menyelesaikan studi di sekolah tersebut, peserta didik nantinya akan mempunyai prospek tertentu sebagaimana lulusan-lulusan lain dari sekolah tersebut, agar mereka yakin benar dengan kebaikan sekolahnya.
   Peserta didik juga perlu mendapatkan bimbingan yang baik di sekolah tersebut, agar dapat menyesuaikan dirinya dengan baik, dan dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Penyesuaian diri yang baik dan belajar dengan baik, ia tidak ketinggalan dengan teman-temannya yang lain.
Disamping itu, peserta didik perlu bimbingan dengan baik agar merencanakan belajarnya, dan diupayakan konsisten dengan rencana tujuan belajar yang sudah disusun sebelumnya oleh peserta didik tersebut. Oleh karena itu, dorongan dan atau motivasi yang terus menerus dari sekolah, akan membantu peserta didik untuk giat belajar dan tidak malas.
  Jika sumber penyebab mutasi tersebut berasal dari sekolah, tak ada alternatif lain kecuali memperbaiki kondisi sekolah. Tentu saja tidak saja sarana dan prasarana fisik sekolah, melainkan sekaligus kondisi sekolah secara keseluruhan. Disiplin guru perlu ditingkatkan, proses dan metode belajar pembelajaran dibuat sevariatif mungkin, fasilitas dan sarana yang ada difungsionalkan dengan baik. Demikian juga layanan-layanan yang ada di sekolah, diupayakan dapat memuaskan peserta didiknya.
   Jika sumber penyebab mutasi peserta didik tersebut berasal dari lingkungan keluarga, maka kerja sama antara sekolah dengan keluarga memang perlu ditingkatkan. Jangan sampai, hanya karena persoalan sepele saja kemudian anak tidak sekolah atau mutasi ke sekolah lain. Perlu ada komunikasi yang intens antara sekolah dan keluarga, sehingga kedua pihk tidak mengalami miscommunication.Adapun, jika peserta didik memili alasan untuk mutasi maka hendaknya mereka diberi keterangan sesuai dengan apa adanya. Tidak boleh dibaik-baikkan atau dijelek-jelekkan. Sebab, bagaimanapun juga, mutasi ke sekolah lain adalah hak peserta didik sendiri. Keterangan-keterangan yang lazim diberikan berkaitan dengan peserta didik yang mutasi misalnya identitas anak, asal sekolah, prestasi akademik di sekola, kelakuan dan kerajinan dan alasan-alasan yang bersangkutan mutasi. Dengan demikian, sekolah yang dituju oleh peserta didik tersebut, mendapatkan gambaran yang senyatanya mengenai anak tersebut.
Bagi sekolah yang akan menerima peserta didik yang akan mutasi,hendaknya juga meneliti lebih lanjut terhadap mereka, sebelum menyatakan menerima. Untuk itulah, sekolah harus meneliti mengenai identitas,kelakuan/kerajinan, prestasi akademiknya, jurusan atau program asalnya, dan alasan-alasan yang berangkutan mutasi. Peserta didik dapat diterima tidaknya sekolah tersebut, juga harus didasarkan atas ketersediaan fasilitas dan kesejajaran sekolah tersebut. Ini sangat penting, karena tidak mungkin sekolah dapat menerima peserta didik tanpa fasilitas dan menerima peserta didik yang kemampuannya tidak sejajar dengan teman-teman yang ada di sekolah tersebut. Sebab kalau ini terjadi, akan memberatkan peserta didik itu sendiri.





BAB III
D. KESIMPULAN
   * Drop out adalah keluar dari sekolah sebelum waktunya atau  sebelum lulus
    * faktor –faktor Drop out
       -Dilihat dari segi tanggung jawab murid itu sendiri
       -Dilihat dari segi rumah tangga
        -Dilihat dari segi sekolah
        -Dilihat dari segi masyarakat
   * Mutasi ialah perpindahan peserta didik dari kelas yang stu ke kelas yang lain yang sejajar atau perpindahan peserta didik ke suatu sekolah yang sejenis .
   * Mutasi intrn ialah mutasi yang dilakukan oleh peserta didik di dalam sekolah itu sendiri.
   * Mutasi ekstern ialah perpindahan peserta didik dari satu sekolah ke sekolah lain dalam satu tingkatan .

E.penutup
Demikian lah makala tentang drop out dan mutasi ini  ,apa bila ada kesalahan dalam makala ini saya mohon maaf ,dan semoga bermanfaat bagi yang membaca .

puisi


kesedihan

Aq sedih tak trhindari
Aq terluka tampa aq pahami
Dri aq sepi tampa tawa tampa senyuman

Kdng dri in gk mampu menjlaninya
Sepi sendri tmpa cinta
Tp mungkin drimu bukn yang dlu lgi
Bukn cinta yang aq kenl
Engkau udh orang lain bgi hti aq

Trkadang aq brbhong kpda dri aq sendri
Mengatakan tak cinta kmu
Mengatakan tak mau hidp dgn mu
Tp aq tak sanggup ni smua
Lebih baik aq akhiri hdp aq
Dgn kesedihan ini sna
Tmpa drimu .

Dinsdag 07 Mei 2013



BAB II
PEMBAHASAN
PENGAMBILAN KEPUTUSAN

A.    Pengertian pengambilan keputusan
            Pengambilan keputusan artinya menentukan suatu jalan keluar dari suatu permasalahan. Pengambilan keputusan itu sebagai suatu kelanjutan dari cara pemecahan masalah memiliki fungsi antara lain sebagai pangkal permulaan dari semua aktivitas manusia yang sadar dan terarah, baik secara individual maupun secar kelompok, baik secara institusionalnya maupun secara organisasional .
            Setiap pemimpinan pasti bertanggung jawab terhadap masa depan organisasinya . untuk itu tujuan yang telah ditetapkan harus dapat tercapai dengan berbagai aktivitas dan kebijakan . salah satu yang harus dilakukan pemimpinan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi adalah pengambilan keputusan .
            Untuk membeikan pemahaman tentang pengambilan keputusan ,terlebih dahulu dikemukakan pengertian pengambilan keputusan . Menurut Robins ( 1984 ) pengambilan keputusan adalah sebagai proses memilih satu pilihan di antara dua  atau lebih alternative . pengambilan keputusan adalah menetapkan pilihan atau alternative secara nalar dan menghindari diri dari pilihan yang tidak rasional ,tanpa alas an atau data yang kurang akurat .
            Davis dalam Syamsi ,1995 , mengemukakan suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan : tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan . [1]
           

            Menurut Mc . Farland decision : “ keputusan adalah suatu tindakan pemilihan di mana pimpinan menentukan suatu kesimpulan tentang apa yang harus atau tidak harus dilakukan dalam situasi yang tertentu” . selain  itu juga dapat dipahami bahwa pengambilan keputusan itu tidak terlepas dari upaya memilih alternatif –alternatif  yang tepat untuk situasi tertentu dengan langkah – langkah tertentu pula .
            Salusu , 1996 mengemukakan bahwa pengambilan keputusan itu ialah proses memilih suatu alternative cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi . proses yang dimaksud di atas untuk menemukan dan menyelesaikan masalah organisasi . mengambil keputusan memerlukan satu seri tindakan yang membutuhkan beberapa langkah .
            Dalam pengambilan keputusan yang terpenting adalah proses yang dijalani .proses itu berjalan seiring dengan langkah –langkah penuntasan masalah . Hal yang demikian dinyatakan oleh Mc Grew dan Wilson (1985 ) : keputusan adalah keadaan akhir dari suatu proses yang dinamis .[2]
            Menurut  Higgins ( 1979 ) :”pengambilan keputusan adalah kegiatan yang paling penting dari semua kegiatan karena di dalamnya terlibat manajer “ .tampa sekali bahwa seorang pemimpin harus selalu bersama organisasinya dan bawahannya dalam rangka mengatasi persoalan yang dihadapi sehingga sangat penting kehadiran seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan yang akan dipilih   oleh organisasi tersebut .
            Dengan begitu ,jelaslah bahwa pengambilan keputusan merupakan hal yang penting untuk dilakukan dalan hubungannya dengan organisasi .







B.    Jenis jenis keputusan
1.     Keputusan strategis, yaitu keputusan yang dibuat oleh manajemen puncak dari suatu
organisasi
2.    Keputusan taktis, adalah keputusan yang dibuat oleh manajemen menengah
3.    Keputusan operasional, adalah keputusan yang dibuat oleh manajemen bawah.
C.    Pengaruh pengambilan keputusan
   Pengaruh adalah kegiatan yang baik secara langsung atau tidak langsung mengakibatkan suatu perubahan perilaku dan sikap orang lain atau kelompok
Elemen-elemen proses yang mempengaruhi :
v Orang yang berperan penting dalam sebuah organisasi
v Metode yang saling berkaitan
v Orang yang mengikuti di dalamnya
D.    Konsep pengambilan keputusan
v Identifikasi dan diagnosis masalah
v Pengumpulan dan analisis data yang relevan
v Pengembangan dan evaluasi alternatif
v Pemilihan alternatif terbaik
v Implementasi keputusan dan evaluasi terhadap hasil-hasil keputusan[3]




E.    Tujuan pengambilan keputusan
Tujuan pengambilan keputusan itu dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
1.Tujuan yang bersifat tunggal
Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal terjadi apabila keputusan yang dihasilkan hanya menyangkut satu masalah, artinya bahwa sekali diputuskan, tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain
2.Tujuan yang bersifat ganda
Tujuan pengambilan keputusan yang bersifat ganda terjadi apabila keputusan yang dihasilkan  itu menyangkut lebih dari satu masalah, artinya bahwa satu keputusan yang diambil itu sekaligus memecahkan dua masalah (atau lebih), yang bersifat kontradiktif atau yang tidak bersifat kontradiktif.

F.     Dasar- Dasar Pengambilan Keputusan
Oleh George R. Terry, disebutkan dasar- dasar dari pengambilan keputusan yang berlaku adalah sebagai berikut.
1. Intuisi
   Pengambilan keputusan yang berdasarkan atas intuisi atau perasaan memiliki sifat subjektif, sehingga mudah terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan intuisi ini mengandung beberapa kebaikan dan kelemahan.
Kebaikannya antara lain sebagai berikut:
v Waktu yang digunakan untuk mengambil keputusan relatif lebih pendek.
v Untuk masalah yang pengaruhnya terbatas, pengambilan keputusan akan memeberikan kepuasan pada umumnya.
v Kemampuan mengambil keputusan dari pengambil keputusan itu sangat berperan, dari itu perlu dimanfaatkan dengan baik.


Kelemahannya antara lain sebagai berikut:
v Keputusan yang dihasilkan relatif kurang baik.
v Sulit mencari alat pembandingnya, sehingga sulit diukur kebenaran dan keabsahannya.
v Dasar- dasar lain dalam pengambilan keputusan sering kali diabaikan.[4]
         2.Pengalaman
   Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis. Karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung dan ruginya, baik- buruknya keputusan yang akan dihasilkan. Karena pengalaman, seseorang yang menduga masalahnya walaupun hanya dengan melihat sepintas saja mungkin sudah dapat menduga cara penyelesaiannya.
         3.Fakta
   Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid, dan baik. Dengan fakta, maka tingkat kepercayaan terhadap pengambil keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan dengan rela dan lapang dada.
   4.Wewenang
Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukannya. Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang juga memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan.




Kelebihannya antara lain sebagai berikut.
1. Kebanyakan penerimanya adalah bawahan, terlepas apakah penerimaan tersebut secara sukarela ataukah secara terpaksa.
2.    Keputusan dapat bertahan dalam jangkia waktu yang cukup lama.
3.    Memiliki otentisitan (otentik).
Kelemahannya antara lain adalah sebagai berikut:
1.     Dapat menimbulkan sifat rutinitas.
2.    Mengasosiasikan dengan praktek diktatorial.
3.    Sering melewati permasalahan yang seharusnya dipecahkan seimbang dapat menimbulkan kekaburan.

5.    Rasional
            Pada pengambilan keputusan yang berdasar pada rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat obyektif, logis, lebih trasparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala terentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pada pengambilan keputusan secara rasional ini terdapat beberapa hal, sebagai berikut.
1.     Kejelasan masalah: tidak ada keraguan dan kekaburan masalah.
2.    Orientasi tujuan: kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai.
3.    Pengetahuan alternatif: seluruh alternatif diketahui jenisnya dan konsekuensinya.
4.    Preferensi yang jelas: alternatif bisa diurutkan sesuai kriteria.

5.     Hasil maksimal: pemilihan alternatif terbaik didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal Pengambilan keputusan secara rasional ini berlaku sepenuhnya dalam keadaan yang ideal.[5]
G.   SIFAT DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Dalam situasi atau manajemen tertentu ,suatu keputusan harus mendahului suatu atau semua pekerjaan . dengan kata lain , rangkain pengambilan keputusan merupakan pekerjaan yang pertama dan paling awal dari sebuah pelaksanaan pekerjaan suatu organisasi , kelompok ,unit atau individu . Bagaimanapun sebuah pekerjaan dalam pelaksanaannya adalah diawali dari keputusan .dalam hal ini keputusanlah yang akan menentukan corak masa depan suatu organisasi . dengan adanya keputusan – keputusan stragis , seperti : penambahan modal untuk memperbesar produksi karena banyak diminati , penambahan pegawai karena jumlah pekerjaan semakin banyak ,dan pembukaan cabang baru , karena pendistribusian semakin gencar , dll.  [6]

















[1] Mesiono , S .Ag ., M.Pd. Bandung, citapustaka Media perintis ,2012,hal 153.
[2] Mesiono , S .Ag ., M.Pd. Bandung, citapustaka Media perintis ,2012,hal 154 .

[6] H . Muhammad Rifa’I ,M.Pd. Muhammad Fadhli, M.Pd. ,Bandung ,citapustaka Media perintis,2013 Hal 159.